Jumat, 07 Januari 2011

filsafat umum

BAB I
PENDAHULUAN


Metode ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi ilmu mrupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah. Metode ilmiah merupakan ekspresi mengenai cara bekerja fikiran. Dengan cara bekerja ini maka pengetahuan yang dihasilkan diharapkan mempunyai karakteristik-karakteristik tertentu yang diminta oleh pengetahuan ilmiah, yaitu sifat rasional dan teruji yang memungkinkan tubuh pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang disusunnya merupakan pengetahuan yang dapat diandalkan.
Dalam hal ini metode ilmiah mencoba menggabungkan cara berfikir deduktif dan cara berfikir induktif dalam membangun tubuh pengetahuannya. Berfikir deduktif memberikan sifat yang rasional kepada pengetahuan ilmiah dan bersifat konsisten dengan pengetahuan yang telah dikumpulkan sebelumnya. Secara sistematik, dan kumulatif pengetahuan ilmiah disusun setahap demi setahap,dengan menyususun argumentasi mengenai sesuatu yang baru brdasarkan pengetahuan yang telah ada.
Pandangan kaum induktivisme dan falsifikanisme tentang ilmu, yang hanya memusatkan perhatian pada relasi antara teori dan observasi, dan telah gagal memperhitungkan kompleksitas yang terdapat dalam teori ilmiah yang urgen. Menurut Khun, ilmu dapat berkembang maju dalam pengertian tertentu, jika ia tidak dapat mencapai kesempurnaan absolud dalam konotasi dapat dirumuskan dengan definisi teori. Oleh karena itu ia memandang bahwa ilmu itu berkembang secara open-ended atau sifatnya selalu terbuka untuk direduksi dan dikembangkan. Konsep sentra Khun adalah paradigma yang merupakan elemen primer dalam progress sains. Seorang ilmuwan selalu bekerja dengan paradigma tertentu, dan teori-teori ilmiah dibangun sekitar paradigma dasar. Paradigma itu memungkinkan seorang ilmuwan untuk memecahkan kesulitan-kesulitan yang lahir dalam kerangka ilmunya, sampai muncul begitu banyak anomali yang tidak dapat dimasukkan ke dalam kerangka ilmunya dan menuntut adanya revolusi paradigmatic terhadap ilmu tersebut. 










BAB II
PEMBAHASAN

A . Pengertian Paradigma
Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :
1.      Cara memandang sesuatu.
2.      Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan.
3.      Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu
4.      Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.
Paradigma merupakan suatu keputusan yudikatif dalam hukum yang tidak tertulis. Secara singkat  pengertian paradigma adalah keseluruhan konstelasi kepercayaan, nilai dan teknik yang dimiliki suatu komunitas ilmiah dalam memandang sesuatu (fenomena). Paradigma membantu merumuskan tentang apa yang harus dipelajari, persoalan apa yang harus dijawab dan aturan apa yang harus di ikuti dalam menginterpretasikan jawaban yang diperoleh.
Suatu pemikiran dapat berkembang menjadi paradigma bila :
a.       Memiliki cukup banyak pengikut, yang berarti ada banyak komunitas ilmiah yang mendukungnya. 
b.      Pemikiran tersebut  membicarakan dan membuka cukup banyak daerah persoalan yang merangsang para ilmuwan untuk mencari pemecahannya.
Sementara itu, suatu paradigma selalu memiliki dua sisi : sisi ilmiah empiris yang dapat di tes, dan sisi metafisis (keyakinan tentang dunia dan manusia). Seseorang menjadi penganut paradigma tertentu biasanya karena tertarik pada sis metafisis yang tidak bisa di tes secara empiris, karena itu ketertarikan dan ketidaktertarikan pada suatu paradigma tak bisa di falsifikasi.

B. Pendekatan Ilmiah Spekulatif ( Non Posifistik)
Menengok anjuran Francois Bacon, demikian pula Rene Deescartes[1], ahli ilmu pasti alam dan sekaligus filusuf modern, yang menyebutkan bahwa pemikiran filsafat masa lalu (abad klasik dan tengah) bercorak spekulatif, supaya merubah pendekatamnnya dengan menggunakan cara kerja ilmu pengetahuan pasti alam. Kritik ini didasarkan pada penemuannyabahwa pemikiran filsafat masa itu lebih terbungkus oleh teologi atau ajaran agama. Sehingga lebih berfungsi sebagai alat untuk melegitimasikan keduanya. Disamping itu sering pula persoalan kehidupan riil didunai ini penjelasannya diwarnai dan dimasukkan ke wilayah agama. Perihal keagamaan sudah mencapai puncak kesempurnaannya, sebab memang agama datangnya dari yang sempurna. Sedangkan dunia konkrit adalah wilayah manusia dan sudah semestinya ditangani secara sempurna, bukan dengan cara spekulasi, jika menghendaki hasil/ dampak yang sempurna.
Idealisme (Ideaisme, pen) Platonik menekankan pada yang mengatasi atau tidak menyangkut ruang, yang bukan  benda fisik, adi indrawi, bertalian dengan norma-norma/ berkenaan dengan nilai dan tujuan. Istilah ini kemudian diperluas sehingga mencakup sebutan-sebutan seperti idea, mind, spirit, dan bahkan person[2]. Sedangkan bagi Hegel, yang menekankan adanya alam idea dalam teori metafisikanya, menyebutkan bahwa hanya ada satu kenyataan terdalam, yaitu yang mutlak (absolut) yang hakekatnya adalah spiritual. Hal selainnya merupakan aspek dari yang mutlak atau merupakan penampakannya[3]. Adapun pandangan idealisme patheistik memahami bahwa kenyataan mencakup suatu keberadaan tunggal, hal- hal selainnya merupakan bagian, penampakan/ proyeksi.
      Dari penjelasan diatas, ada gambaran bahwa fokus faham-faham tersebut lebih tertuju pada perihal yang bersifat universal ( persoalan yang berada di luar jangkauan yang indrawi). Hal-hal non indrawi pemahamannya dipandang sebagai yang spekulatif karena alasan alasan rasional yang dipakai oleh para pemikir spekulan, pertama, hubungannya dengan perihal yang universal/ substansial, kurang didukung oleh kemungkinan dilakukannya pembuktian secara empiris. Dan hal ini tidak mungkin karena persoalan indrawi bahkan dipandang sebagai hal yang nisbi/ maya. Padahal realitas menunjukkan bahwa hal yang empiris adalah nyata adanya. Kedua, tak jarang pemikiran mereka tentang pencarian asal-usul kosmos berakhir/ dikaitkan dengan yang diluar kosmos.
      Catatan-catatan inilah tampaknya yang menjadi dasar kaum non spekulan yang menyebut kaum spekulan pemikirannya sangat spekulatif, yakni berbentuk perkiraan, meskipun dalam penyajiannya tampak sangat logis. Sebagai suatu faham, kelompok tersebut diatas tentunya memiliki pendekatan dalam memahami obyek kajiannya. Pendekatan yang diterapkannya disebut orang sebagai metode ilmiah yang didasarkan pada bentuk penalaran deduktif. Jenis penalaran itu, dalam pengambilan keputusannya alurnya bermula/ bertitik tolak dari yang umum menuju yang khusus. Dengan kata lain, berpijak pada norma, dalil, teori/ rumus, kemudian mengukur/ menganalisis obyek berdasar standar itu.
Sebagai contoh, masa klasik dan tengah corak pemikiran barat sangat didominasi oleh jenis penalaran deduktif. Terutama pemikiran Aristoteles dalam bentuknya yang sillogistik, berpengaruh cukup luas. Pola sillogisme dicirikan dengan penetapan premis mayor sebagai standar/ patokan ( ini disebut dengan norma, dalil, dan teori/rumus). Berikunya di tetapkanlah premis minornya ( ini realitas atau data yang diukur). Dari proses pemikiran itu, premis minor oleh premis mayor, ditetapkanlah kesimpulan. Gambaran konkrit dari proses itu adalah:
Premis Mayor : Setiap manusia meninggal dunia
Premis Minor : Udin adalah manusia
 Kesimpulan   :  Udin (pasti) meninggal dunia
            Pada contoh diatas, kebenaran dalam kesimpulan sifatnya pasti dan logis. Jika difahami secara seksama kebenaran yang pasti itu sudah terbentuk dengan sendirinya oleh posisi dan kondisi pola pemikirannya yang memang sudah demikian. Selain itu kebenaran penalaran deduktif tidak memberi toleransi kepada realitas/ yang histories/ kontekstual, tetapi justru realitas itulah yang harus mengikuti yang normative.
Di luar dunia barat, dunia islam pun kental dengan nuansa penalaran deduktif seperti itu. Peta pemikiran itu meliputi bayani, ‘irfani, dan burhani. Pada peta pemikiran bayani itulah penalaran deduktif sebagai warnanya. Demikian pula ‘irfani, sebagai analisa ilmiah, bukan sebagai praktek sufi (thariqoh), juga diwarnai penalaran deduktif. Namun burhani/ demonstrative, penalarannya sudah berbentuk induktif. Pada kenyataannya, para pemikir muslim; filsuf, teolog, dan fuqaha, mayoritas pemikirannya bernuansa deduktif. Embrio burhani tampak pada Ibn Al- Rusyd (filsuf) dan Ibn Khaldun ( sosiolog)
            Terlepas dari penalaran deduktif yang mewarnai pendekatan ilmiah spekulatif, ketika digunakan untuk menganalisis realitas kehidupan konkrit, pada kenyataannya ada wilayah yang sudah semestinya harus dianalisis dan dijelaskan dengan menggunakan penalaran deduktif, dan itu harus dipandang benar (ilmiah, meskipun spekulatif)


Normal Science
            Normal science menurut Thomas Kuhn berarti penelitian yang secara kokoh melandaskan pada hasil dari satu/ banyak penelitian terdahulu. Sedangkan menggunakan karya klasik para ahli mempunyai 2 karakteristik yang berbeda, yaitu pertama, memang merupakan temuan baru yang sebelumnya tidak ada dan kedua karena telaahnya bersifat open ended. Dua karakteristik tersebut memang akan menjadi bagian dari apa yang selanjutnya disebut oleh Thomas Kuhn sebagai paradigma. Paradigma diilistrasikan sebagai konstruk berfikir yang mampu menjadi wacana untuk temuan ilmiah dan open ended. Normal science atau kerangka teoritik berdasar kajian hasil penelitian terdahulu yang tidak memiliki karakteristik temuan baru dan open ended, akan membuat ilmuwan menjadi bayang-bayang ilmuwan terdahulu. Dahulu, ilmuwan yang tidak mau percaya begitu saja, apa yang umumnya dipercaya oleh ilmuwan lain, menjadi terpaksa menyesuaikan pada yang umumnya dipercaya.

Sifat dan Perlunya Revolusi Sains
Revolusi sains disini dianggap sebagai episode perkembangan nonkumulatif yang didalamnya paradigma yang lama diganti seluruhnya atau sebagian oleh paradigma baru yang bertentangan. Revolusi sains dibuka oleh kesadaran yang semakin tumbuh, yang lagi-lagi sering terbatas pada sub devisi yang sempit dari masyarakat sains, bahwa paradigma yang ada tidak lagi berfungsi secara memadai dalam eksplorasi suatu aspek dari alam, yang sebelumnya paradigma itu sendiri yang menunjukkan jalan bagi eksplorasi itu. Dalam perkembangan sains, kesadaran akan adanya mala fungsi yang dapat menyebabkan krisis itu merupkan prasyarat bagi revolusi. Pada saat masyarakat terbagi kedalam dua kelompok atau partai yang bersaing, yang satu berusaha mempertahankan konstelasi kelembagaan yang lama dan yang lain berupaya mendirikan yang baru. Dan jika polarisasi itu terjadi, maka penyelesaian secara politis gagal. Karena mereka berselisih tentang matrik kelembagaan tempat mencapai dan menilai perubahan politik, karena tidak ada supraintitusional yang diakui oleh mereka untuk mengadili perselisihan revolusioner ini menggunakan bantuan tehnik-tehnik persuasi massa, seringkali dengan melibatkan kekuatan. Meskipun revolusi mempunyai peran yang vital dalam evolusi lembaga-lembaga politik, peran ini bergantung pada apakah revolusi itu merupakan peristiwa yang sebagian ekstrapolitis dan ekstraintitusional.
Seperti dalam revolusi politik, dalam pemilihan paradigmapun tidak ada standar yang lebih tinggi daripada persetujuan masyarakat yang bersaangkutan. Untuk menyingkapkan bagaimana revolusi sains dipengaruhi, kita tidak hanya harus meneliti dampak sifat dan dampak logika, tetapi juga tehnik-tehnik argumentasi persuasif dan efektif didalam kelompok-kelompok yang sangat khusus yang membentuk masyarakat sains itu.
Sesuatu yang bahkan lebih fundamental daripada standar-standar dan nilai-nilai, bagaimanapun juga dipertaruhkan.

Revolusi sebagai perubahan atas dunia
Yang lebih penting lagi , selama revolusi para ilmuwan melihat hal-hal yang baru dan berbeda ketika mereka menggunakan instrumen-instrumen yang sangat dikenalnya untuk menengok tempat-tempat yang pernah dilihatnya. Dalam sains, jika perubahan persepsi menyertai perubahan paradigma, kita tidak mengharapkan para ilmuwan secara langsung menyokong perubahan ini, ketika memandang bulan, orang yang beralih kepada Copernicanisme tidak berkata ,” saya biasanya melihat planet, tetapi sekarng saya melihat satelit,” ungkapan itu akan menyiratkan pada sistem Ptolomeus pernah benar. Alih-alih orang yeng beralih ke Astronomi baru berkata, “ Dulu saya menganggap bulan sebagai planet, tetapi saya keliru.” Pernyataan itu memang berulang setelah terjadi revolusi sains. Jika hal itu biasanya menyamarkan perubahan pandangan ilmiah atau transformasi mental yang lain yang efeknya sama, kita tidak bisa mengharapkan kesaksian langsung tentang perubahan itu. Akan tetapi, kita harus mencari bukti tak langsung atau bukti berupa perilaku yang oleh ilmuwan dengan paradigma baru terlihat berbeda dari yang telah dilihatnya sebelum itu.

Tak Tampaknya revolusi
 kebanyakan peragaan-peragaan revolusi dengan ilustrasi, dan contoh-contohnya, sengaja dipilih karena sudah dikenal, dipandang bukan sebagai revolusi, melainkan tambahan kepada pengetahuan sains. Pandangan yang sama dapat juga diambil dari ilustrasi tambahan yang mana pun, dan hal ini barangkali akan tidak efektif. Baik ilmuwan maupun orang awam mengambil banyak dari citra mereka tentang kegiatan sains yang kreatif dari sumber yang berwenang secara sistematis menyamarkan sebagian karena alasan-alasan fungsional yang penting  adanya dan pentingnya revolusi sains. Baik orang awam maupun pemraktek, pengetahuannya tentang sains didasarkan atas buku-buku teks atau beberapa jenis kepustakaan lain yang diturunkan dari buku-buku teks itu.
Sebagai wahana pedagogis untuk melestarikan sains yang normal, buku teks harus ditulis ulang seluruhnya atau sebagian apabila bahasa, struktur masalah, atau standar sains yang normal berubah. Singkat kata, buku teks harus ditulis ulang setelah revolusi sains dan, setelah ditulis ulang, mau tak mau ia akan menyamarkan bukan hanya peran, melainkan juga adanya revolusi yang menghasilkannya. Kecuali jika masa hidupnya pribadi mengalami revolusi, kesadaran historis  ilmuwan yang berkarya maupun orang awam pembaca kepustakaan buku teks hanya memperluas akibat revolusi yang paling baru dalam bidangnya.
Lebih dari aspek manapun dari sains, bentuk pedagogis itu lebih menekankan citra kita tentang sifat sains dan tentang peran  penemuan dan penciptaan dalam kemajuan.
Pemecahan Revolusi
Buku-buku teks yang  hanya dihasilkan sebagai akibat revolusi sains merupakan dasar tradisi baru sains yang normal. Tak dapat dihindarkan pada masa-masa revolusi nampaknya keyakinan tangguh dan bandel, dan kadang-kadang memang menjadi demikian. Akan tetapi, ia juga suatu kelebihan. Keyakinan yang sama itulah yang memungkinkan adanya sains yang normal atau sains yang memecah teka-teki. Dan hanya yang melalui sains yang normallah masyarakat profesional para ilmuwan berhasil, pertama dalam memanfaatkan lingkup potensial dan petisi paradigma yang lama, dan kemudian dalam mengisolasi kesukaran melalui studi yang bisa memunculkan paradigma baru.
Ini tidak menyatakan bahwa paradigma baru pada akhirnya meraih kemenangan melalui estetika mistik. Sebaliknya, sangat sedikit orang yang meninggalkan tradisi hanya karena alasan-alasan ini. Seringkali mereka yang berbalik itu disesatkan. Akan tetapi jika suatu paradigma bagaimanapun harus menang, ia harus memperoleh beberapa pendukung, yakni orang-orang yang akan mengembangkannya sampai titik ketika argumen-argumen yang keras kepala itu dapat dibuat dan dilipat gandakan.

Kemajuan melalui revolusi
Secara luas sekali istilah “sains” itu dicadangkan bagi bidang-bidang yang memang maju dengan cara-cara yang jelas. Dimanapun hal ini tidak diperlihatkan dengan lebih jelas daripada dalam perdebatan yang berulang-ulang  tentang apakah satu atau lain sains social kontemporer itu benar-benar sains. Kita harus belajar menyadari apa yang biasanya kita anggap efek itu sebagai suatu penyebab. Jika kita dapat melakukannya, frase-frase seperti “ kemajuan sains” dan “Objektivitas sains” akan menjadi tampak seolah-olah sebagian dibesar-besarkan. Sebenarnya, satu aspek dari pleonasme itu baru saja dilukiskan.
Namun, jika dipandang dari dalam suatu masyarakat tersendiri yang mana saja , apakah masyarakat ilmuwan atau non ilmuwan, hasil dari karya yang kreatif yang berhasil itu adalah kemajuan.































BAB III
KESIMPULAN

§         Pengertian Paradigma
Pengertian paradigma menurut kamus filsafat adalah :
1.      Cara memandang sesuatu.
2.      Model, pola, ideal dalam ilmu pengetahuan.
3.      Totalitas premis-premis teoritis dan metodologis yang menentukan atau mendefinisikan suatu study ilmiah kongkrit dan ini melekat di dalam praktek ilmiah pada tahap tertentu
4.      Dasar untuk menyeleksi problem-problem dan pola untuk memecahkan problem-problem riset.

§         Suatu pemikiran dapat berkembang menjadi paradigma bila :
a.   Memiliki cukup banyak pengikut, yang berarti ada banyak komunitas ilmiah yang mendukungnya.
b.  Pemikiran tersebut membicarakan dan membuka cukup banyak daerah persoalan yang merangsang para ilmuwan untuk menvari pemcahannya. 

Konsep dan pandangan Kuhn tentang science progres tersebut memungkinkan terjadinya perkembangan ilmu pengetahuan yang pesat dengan revolusi besar menuju ke arah yang makin mendekati kesempurnaan dan lebih sesuai dengan kondisi sejarah dan zaman. Dengan konsep paradigmanya yang fleksibel dan tidak ketat di satu sisi, mampu mendukung adanya tradisi-tradisi ilmiah dan melepaskan adanya ketergantungan observasi pada teori. Di sisi lain, sifat paradigma yang tidak sempurna dan tidak terbebas dari anomali-anomali, mampu mendorong terjadinya suatu revolusi science dan mencapai kemajuan ilmu pengetahuan yang pesat.
Jika mengikuti model konsep Kuhn tentang perkembangan ilmu tersebut, maka adalah suatu kekeliruan serius jika seorang ilmuwan hanya memegang satu paradigma klasik saja, sedang anomali-anomali menyerang paradigmanya secara fundamental, walaupun tidak ada argumen logis yang dapat memaksa ilmuwan untuk melakukan konversi paradigma.




Daftar Pustaka

Kuhn, ThomasS. 1962. The Structure of Scientific Revolutions Peran Paradigma DalamRevolusi Sains. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya

Suriasumantri, Jujun S. 2007. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Muhadjir, Noeng. 2001. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Rake Sarasin

http// loekisno. Wordpress.com/2008/02/07/shift-paradigm-thomas-kuhn//

http// bayu 96 ekonoms. Word press.com/anda-tertarik/artikel-sosial-budaya/peran-paradigma-dalam-revolusi-sains/

Ghazali, Bachari.2005. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Pokja UIN Sunan Kalijaga


























Pendekatan Ilmiah non positivistik:
 Teori Revolusi Paradigma Thomas Kuhn

Makalah ini disusun guna memenuhi:

Mata Kuliah : Filsafat Ilmu
Dosen Pengampu            : Drs. Usman, SS., M. Ag







Disusun oleh
Nur Pratiwi
09480019


JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010


[1] Harun Hardiwijono, Op. Cit.,h. 15-17, 18-19
[2] Dagobert D. Runes, Op. Cit.,h. 136
[3] Ibid. h. 137

Tidak ada komentar:

Posting Komentar