Jumat, 07 Januari 2011

psikologi umum

BAB II
PEMBAHASAN
A.     Pengertian Emosi
Definisi emosi itu bermacam-macam, seperti “keadaan bergejolak”, “gangguan keseimbangan”, “response kuat dan tak beraturan terhadap stimulus (keadaan)”. Ada satu hal yang sama yaitu bahwa pada setiap definisi tersebut keadaan emosional itu menunjukkan penyimpangan dari keadaan yang normal. Keadaan yang normal adalah keadaan yang tenang atau keadaan seimbang fisik dan sosial. Meskipun keadaan yang tenang itu dianggap sebagai keadaan yang normal, namun dalam kehidupan modern keadaan emosional itu lebih mewarnai sifat seseorang. Dalam tempo kehidupan modern, emosi itu perlu sekali difahami karena mempunyai pengaruh yang besar terhadap tingkah laku, kepribadian, dan kesehatan.
Perasaan dan emosi biasanya disifatkan sebagai suatu keadaan (state) dari diri organisme atau individu pada suatu waktu. Misalnya orang merasa sedih,senang, terharu, dsb, bila melihat sesuatu, mendengar sesuatu, mencium bau, dsb. Dengan perkataan lain perasaan disifatkan sebagai suatu keadaan jiwa sebagai akibat adanya peristiwa-peristiwa yang pada umumnya datang dari luar, dan peristiwa-peristiwa tersebut pada umumnya menimbulkan kegoncangan-kegoncangan pada ndividu yang bersangkutan. Perasaan senang atau tidak senang yang selalu menyertai perbuatan-perbuatan kita sehari-hari itu, disebut warna efektif.
Perbedaan antara perasaan dan emosi tidak dapat dinyatakan dengan tegas, karena keduanya merupakan suatu kelangsungan kwalitatif yang tidak jelas batasannya. Pada suatu saat tertentu, suatu warna efektif dapat dikatakan sebagai perasaan, tetapi juga dapat dikatakan sebagai emosi.
B.     Perubahan-perubahan pada tubuh saat terjadi emosi
Selama emosi berlangsung banyak terjadi perubahan pada tubuh kita. Perubahan ini membantu menjelaskan berbagai reaksi yang ditunjukkan oleh orang yang sedang mengalami emosi.


Terutama pada emosi yang kuat, sering kali terjadi juga perubahan -perubahan pada tubuh kita antara lain:
1.      Reaksi elektris pada kulit          : meningkat bila terpesona
2.      Peredaran darah                       : bertambah cepat bila marah
3.      Denyut jantung              : bertambah cepat bila terkejut
4.      Pernafasan                                : bernafas panjang kalau kecewa
5.      Pupil mata                                : membesar bila sakit atau marah
6.      Liur                                          : mengering kalau takut atau tegang
7.      Bulu roma                                 : berdiri kalau takut
8.      Otot                                         : menegang atau bergetar kalau tegang dan takut
9.      Komposisi darah                       : komposisi darah akan ikut berubah dalam keadaan    emosionil       karena kelenjar-kelenjar lebih efektif
C.     Pertumbuhan emosi
Pertumbuhan dan perkembangan emosi, seperti juga pada tingkah laku lainnya, ditentukan oleh proses pematangan dan proses belajar. Seorang bayi yang baru lahir sudah dapat menangis, tetapi ia harus mencapai tingkat kematangan tertentu sebelum ia dapat tertawa. Pada bayi yang baru lahir, satu-satunya emosi yang nyata adalah kegelisahan yang nampak sebagai ketidaksenangan dalam bentuk menangis dan meronta. Pada keadaan tenang, bayi itu tidak menunjukkan perbuatan apapun, jadi emosnya netral. Makin besar anak itu, makin besar pula kemampuannya untuk belajar sehingga perkembangan emosi makin rumit. Perkembangan emosi melalui proses kematangan hanya terjadi sampai usia satu tahun. Setelah itu perkembangan selanjutnya lebih banyak ditentukan oleh proses belajar.
Pengaruh kebudayaan besar sekali terhadap perkembangan emosi, karena dalam tiap-tiap kebudayaan diajarkan cara menyatakan emosi yang konvensionil dan khas dalam kebudayaan yang bersangkutan, sehingga ekspresi emosi tersebut dapat dimengerti oleh orang-orang lain dalam kebudayaan yang sama. Ekspresi-ekspresi itu antara lain : Menjulurkan lidah kalau keheranan, bertepuk tangan kalau kuatir, menggaruk telinga dan pipi kalau bahagia. Yang juga dipelajari dalam perkembangan emosi adalah obyek-obyek dan situasi-situasi yang menjadi sumber emosi. Sebagai contoh: seorang anak yang tidak pernah di takut-takuti ditempat gelap, tidak akan takut pada tempat yang gelap.

D.     Menggolongkan Emosi
Membedakan satu emosi dari emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yangsejenis kedalam suatu golongan atau satu tipe sangat sukar dilakukan karena hal-hal berikut :
1.      Emosi yang sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat takut) menyebabkan aktivitas badan sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh aktif, dan dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
2.      Satu orang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara. Misalnya: kalau marah ia gemetar di tempat, tetapi lain kali ia memaki-maki atau mungkin lari.
3.      Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangannya, bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu yang menjengkelkan.
4.      Pengenalan emosi secara subjektif dan introspektif, sukar dilakukan karena selalu saja ada pengaruh dari lingkungan. 
E.      3 Dimensi perasaan menurut Wundt
Menurut W.Wundt perasaan tidak hanya dapat dialami oleh individu sebagai perasaan senang atau tidak senang, tetapi masih dapat dilihat dari dimensi lain. 3 dimensi itu adalah :
1.      Perasaan yang menyenangkan atau tidak menyenangkan
2.      Perasaan itu dapat dialami sebagai suatu hal yang “excited” atau sebagai “innert feeling”, sesuatu perasaan yang dialami oleh individu itu dapat disertai tingkah laku perbuatan yang menampak, misalnya orang menari-nari karena gembira sekali sehabis menerima uang banyak atau lulus ujian, tetapi ada pula sekalipun ia menerima uang banyak atau lulus ujian dan mengalami sesuatu perasaan, tetapi ia tetap tenang saja tanpa adanya perbuatan-perbuatan atau tingkah laku yang menampak seperti pada orang yang pertama.
3.      “Expectancy” dan “release feeling”. Sesuatu perasaan dapat dialami oleh individu sebagai sesuatu yang masih dalam pengharapan, tetapi ada pula perasaan yang dialami individu karena peristiwa atau keadaan itu telah nyata terjadi atau telah “release”.[1]
Sehubungan dengan soal waktu dan perasaan, Stern juga membedakan perasaan dalam 3 golongan yaitu :
1.      Perasaan-perasaan presens, yaitu yang bersangkutan dengan keadaan-keadaan sekarang yang dihadapi. Hal ini berhubungan dengna situasi yang aktual.
2.      Perasaan-perasaan yang menjangkau maju, merupakan jangkauan ke depan dalam  kejadian-kejadian yang akan datang, jadi masih dalam pengharapan
3.      Perasaan-perasaan yang berhubungan dengan waktu-waktu yang telah lalu, atau melihat ke belakang yang telah terjadi. misalnya, orang merasa sedih, karena teringat pada waktu jaman ke-emasannya beberapa tahun yang lampau-lampau.[2]
F.      Pola Emosional yang Lazim
1.      Takut
Takut adalah perasaan yang sangat mendorong individu untuk menjauhi sesuatu dan sedapat mungkin menghindari kontak dengan hal itu. Bentuk ekstrim dari takut adalah takut yang pathologis, yang disebut fobia. Fobia adalah perasaan takut terhadap hal-hal tertentu yang demikian kuatnya, meskipun tidak ada alasan yang nyata, misalnya takut terhadap tempat yang sempit dan tertutup ( claustrophobia), takut terhadap ketinggian atau takut berada di tempat-tempat yang tinggi (acrophobia), takut terhadap kerumunan orang atau tempat-tempat ramai (achlophobia)
2.      Kuatir
Khawatir atau was-was adalah rasa takut yang tidak mempunyai objek yang jelas atau tidak ada objeknya samasekali. Kekuatiran menyebabkan rasa tidak senang, gelisah, tegang, tidak tenang, tidak aman. Kekuatiran seseorang untuk melanggar norma masyarakat adalah suatu bentuk kekuatiran yang umum pada tiap- tiap orang. Kekuatiran ini justru positif karena selalu bersikap hati-hati dan berusaha menyesuaikan diri dengan norma masyarakat.
3.      Cemburu
Kecemburuan adalah bentuk khusus dari kekuatiran yang didasari oleh kurang adanya keyakinan terhadap diri sendiri dan ketakutan akan kehilangan kasih sayang dari seseorang. Seseorang yang cemburu selalu mempunyai sikap benci terhadap saingannya.

4.      Gembira
Gembira adalah ekpresi dari kelegaan, yaitu perasaan terbebas dari ketegangan. Biasanya kegembiraan itu disebabkan oleh hal-hal yang bersifat tiba-tiba (surprise) dan kegembiraan biasanya bersifat sosial, yaitu melibatkan orang-orang lain di sekitar orang yang sedang gembira tersebut.
5.      Marah
Sumber utama dari kemarahan adalah hal-hal yang mengganggu aktivitas untuk mencapai tujuannya. Dengan demikian, ketegangan yang terjadi dalam aktivitas itu tidak mereda, bahkan bertambah. Untuk menyalurkan ketegangan-ketegangan itu individu yang bersangkutan menjadi marah.















BAB III
KESIMPULAN
Definisi emosi itu bermacam-macam, seperti “keadaan bergejolak”, “gangguan keseimbangan”, “response kuat dan tak beraturan terhadap stimulus (keadaan)”. Ada satu hal yang sama yaitu bahwa pada setiap definisi tersebut keadaan emosional itu menunjukkan penyimpangan dari keadaan yang normal.
Membedakan satu emosi dari emosi lainnya dan menggolongkan emosi-emosi yang sejenis kedalam suatu golongan atau satu tipe sangat sukar dilakukan karena hal-hal berikut :
1.      Emosi yang sangat mendalam (misalnya sangat marah atau sangat takut) menyebabkan aktivitas badan sangat tinggi, sehingga seluruh tubuh aktif, dan dalam keadaan seperti ini sukar menentukan apakah seseorang sedang takut atau sedang marah.
2.      Satu orang dapat menghayati satu macam emosi dengan berbagai cara. Misalnya: kalau marah ia gemetar di tempat, tetapi lain kali ia memaki-maki atau mungkin lari.
3.      Nama yang umumnya diberikan kepada berbagai jenis emosi biasanya didasarkan pada sifat rangsangannya, bukan pada keadaan emosinya sendiri. Jadi, takut adalah emosi yang timbul terhadap suatu bahaya, marah adalah emosi yang timbul terhadap sesuatu yang menjengkelkan.
4.      Pengenalan emosi secara subjektif dan introspektif, sukar dilakukan karena selalu saja ada pengaruh dari lingkungan. 
Pola Emosional yang Lazim
1. Takut
2. Kuatir
3. Cemburu
4. Gembira
5. Marah


EMOSI dan PERASAAN
Makalah ini di susun guna memenuhi:
Mata Kuliah : Psikologi umum
Dosen Pengampu   : Eva Latipah, M.SI

Disusun oleh
Nur Pratiwi
09480019

JURUSAN PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA
2010


Daftar Pustaka
Mahmud, Dimyati. 1990. Psikologi Suatu Pengantar jilid 1. Yogyakarta: BPEE
Davidofk, Linda.1991. Psikologi Suatu Pengantar jilid 2. Jakarta: Erlangga
Walgito, Bimo. 1983. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM
Wirawan, Sarlito. 1982. Pengantar Psikologi Umum. Jakarta: N.V. Bulan bintang
Fauzi, Ahmad. 2004. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia















BAB I
PENDAHULUAN

Kita semua memiliki emosi. Emosi merupakan bagian tak terpisahkan dari hidup kita, seperti wangi harum yang tidak bisa dipisahkan dari bunga. Emosi memberi pengaruh penting terhadap kebahagiaan kita. Karena itu, kita harus belajar mengendalikan emosi kita sebagaimana mestinya. Emosi terbagi menjadi dua tipe, positif dan negatif. Emosi positif akan membuat kepribadian menarik, dan hal ini dapat membuat kita bahagia. Sebaliknya, emosi negatif dapat menghancurkan kebahagiaan dan merampas akal sehat kita. Karenanya, kita harus membuang emosi negatif tersebut.
Pada umumnya perbuatan kita sehari-hari disertai oleh perasaan- perasaan tertentu, yaitu perasaan senang atau tidak senang. Perasaan ini kadang-kadang kuat, kadang-kadang lemah atau samar-samar saja. Bagi anak-anak perkembangan sangat cepat dan besar sekali, sehingga umunya anak-anak akan lebih emosional dibandingkan dengan orang dewasa. Pandangan mereka selalu optimis, cepat merasa puas (terutama pada anak sekolah dasar) sehingga mereka akan mudah merasa senang, periang, kesedihan dan kesusahan atau justru kesenangan orang lain pun belum mereka hayati dengan baik- baik.
Pada  waktu lahir, emosi tampak dalam bentuk sederhana, hampir  tidak terbedakan sama sekali. Dengan bertambahnya usia, berbagai reaksi emosional menjadi kurang tersebar, kurang acak, dan lebih terbedakan, dan reaksi emosional dapat ditimbulkan oleh berbagai macam rangsangan. 



[1] Woodworth dan Marquis 1957
[2] Kohnstamm Bigot dan Palland.1950

Tidak ada komentar:

Posting Komentar